Dalam perkuliahan Filsafat Pendidikan pada hari selasa tanggal 27 November 2018 oleh Bapak Moh Aniq KHB, M.Hum , Beliau membahas tentang “ karya tulisan atau teks yang masih tetap ada walaupun penulisnya sudah mati”. Hal itu dimaksudkan bahwa karya seseorang akan tetap hidup sepanjang masa walaupun penulis sudah meninggal dunia. Karyanya masih dapat dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, seorang penulis disadari maupun tidak telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesame, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya
Akan tetapi karya teks manusia berbeda dengan Al-Quran yang mana penciptanya adalah Allah SWT yang mana beliau tidak dapat dikatakan mati. Al-Quran merupakan wahyu yang diturunkan dari Tuhan. Dari hal tersebut terdapat perbedaan dari karya hasil manusia dan karya Tuhan yang tidak dapat di samakan.
Filsafat menghasilkan pola pikiir untuk menjadi dasar dalam berpikir. Seperti contoh komunisme PKI dan G30S yang dianggap masyarakat memiliki pengertian yang sama padahal berbeda. Jika PKI itu berkenaan dengan Partai sedangkan G30S PKI berkenaan dengan militer, ABRI,Soeharto dan Soekarno Manusia sebagai penciptaan awal sebagai naluriah tidak dapat mengelak. Sebagai contoh kamu sedang menyukai K-POP yang secara otomatis kamu akan meniru gaya penampilanya dsb, tetapi tidak dapat dibohongi dengan nalurinya jati diri orang jawa.
Manusia sebagai ciptaan awal dilihat dari. segi Psikis, Mentalitas dan Kewarasan. Perkembangan psikis merupakan perkembangan pada segi emosi, sifat-sifat maupun tingkah laku. Perkembangan psikis dipengaruhi oleh factor keluarga maupun lingkungan. Selanjutnya hal ke-2 dari manusia sebagai ciptaan awal dilihat dari segi mentalitas, mentalitas merupakan sikap atau keberanian seseorang dalam melakukan suatu tiindakan atau perilaku dengan penuh keseriusan , penuh optimis dan penuh kepercayaan atau bias dikatakan mentalitas sebagai keadaan jiwa seseorang. Kemudian hal ke-3 yaitu tentang kewarasan, kewarasan merupakan merupakan kesehatan jasmani dan rohani seseorang dalam melakukan sesuatu hal.
Timbul pertanyaan “jika manusia bersholawat menyebut nama Nabi Muhammad SAW, tetapi bagaimana jika Nabi Muhammad bersholawat, apakah beliau memanggil namanya sendiri atau bersholat kepada dirinya sendiri?”. Bersholawat itu memiliki 2 pemikiran yaitu bersholawat dengan nabi Muhammad atau bersholawat dengan sebuah nama Muhammad. Jadi tidak masalah jika nabi Muhammad bersholawat dengan menyebut dirinya sendiri karena itu simbol bahwa beliau mengakui dirinya adalah seorang Nabi utusan dari Allah SWT.